Selasa, 02 Oktober 2012

Teori Belajar Awal


Kelompok :
 
Watson mencatat, bahwa selama 50 tahun terakhir psikologi gagal menjadi ilmu pasti. Fokus pada kesadaran dan proses mental menyebabkan psikologi menemui jalan buntu. Behaviorisme menjadi aliran dominan dari 1920-an hingga 1950-an, namun ia tidak sepenuhnya bebas dari penantang. Pendapat yang menentangnya, yakni psikologi Gestalt, yang menekankan pada pentingnya persepsi pembelajar dalam situasi pemecahan masalah dan karenanya ia membahas persoalan kognisi.
PENGKONDISIAN KLASIK DAN KONEKSIONISME
            Dua pendekatan awal untuk mempelajari perilaku adalah pengkondisian klasik dan koneksionisme.
Argumen Dasar Behaviorisme
            John Watson mendukung studi perilaku. Alasannya adalah semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respons-respons tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimulus) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respons yang ditimbulkan lewat stimulus, dan sebalikya.
            Setelah mendalami studi perilaku, Watson menemukan riset reflex motorik dari psikolog rusia, V.M Bekheterev. Karya Bekheterev penting, karena ia berhasil memanipulasi reaksi behavioral di dalam laboratorium.
Asumsi Dasar
            Behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar. Asumsi itu adalah :
1.      Fokus studi seharusnya addalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
2.      Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respon spesifik)
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral.

Pavlov dan Pengkondisian Klasik atau Refleks
            Kisah riset Pavlov memperlihatkan seorang ilmuwan yang secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengontrol perilaku sederhana saat meneliti reflex keluarnya air liur anjing. Dia sendiri, menemukan bahwa reaksi tidak sengaja, keluarnya air liur, dapat dilatih untuk merespons suara yang tidak berhubungan dengan makanan.
Pavlov dan Kaum Bolshevik
            Masa-masa revolusi Bolshevik (1917-1921) adalah masa-masa sulit bagi Pavlov, keluarganya, dan laboratoriumnya. Rumah Pavlov beberapa kali dicari-cari, hendak dibakar, dan keluarganya melarikan diri dari tempat di mana ia tinggal di sekitar Institute of Experimental Medicine.
            Pada Juni 1920, saat berusia 70 tahun. Pavlov menulis surat kepada pemerintah untuk minta izin beremigrasi. Kemudian ia menerima tunjangan hidup, jatah makan yang dipilh sendiri, mendapatkan pekerjaan, dan dukungan laboratorium.
Riset di Laboratorium Pavlov
            Fokus riset yang diawasi oleh Pavlov adalah reflex air liur anjing. Pada mulanya Pavlov menyebut reaksi air liur ini sebagai reflex yang dikondisikan. Namun, pada riset berikutnya, V.N Boldyrev menemukan bahwa reflex air liur ini bisa dilatih untuk merespons (dikondisikan) objek-objek atau kejadian dari modalitas indrawi, seperti : suara, penglihatan, atau sentuhan (Windholz, 1997).
            Riset di laboratorium Pavlov ini penting karena 2 sebab, yaitu :
a.       menunjukkan bahwa reaksi keluarnya air liur adalah reflex
b.      mengubah relasi alamiah antara stimulus dan reaksi diman dianggap sebagai penemuan penting dalam studi perilaku.

Paradigma Pengkondisian Klasik
            Proses dimana kejadian atau stimuli mampu memicu respon dikenal sebagai refleks atau pengkondisian klasik.Proses pengkondisian klasik terdiri dari tiga tahap, yaitu :
a.       pra eksperimental
b.      memasang stimulus asli dengan stimulus baru yang tidak berhubungan dengan reaksi
c.       stimulus baru menimbulkan reaksi
Dalam relasi ilmiah, stimulus dan reaksi otomatisnya disebut sebagai unconditioned stimulus (UCS), dan unconditioned response (UCR) atau respon yang tidak dikondisikan.CS adalah hasil dari training, dan CR adalah reaksi yang terlatih merespon stimulus baru.
Konsep Terkait
Pengkondisian klasik memunculkan sejumlah variabel dan relasi yang dapat diriset dan diukur di dalam laboratorium. Termasuk kekuatan respon (amplitudo), lamanya waktu antara stimulus dan respon (latensi), dan tendensi stimuli yang sama untuk memunculkan reflex (generalisasi stimulus). Selain itu juga mengukur resistensi terhadap pelenyapan (extinction) dan hambatan (inhibition).
Efek dari pengkondisian Pavlovian adalah :
a.       munculnya riset terhadap kelangsungan hidup hewan di lingkungan alam
b.      perkembangan proses yang disebut kontra pengkondisian (counter-conditioning)
Pengkondisian Klasik dan Reaksi Obat
Reaksi terhadap isyarat sebelum datangnya makanan, juga menjelaskan relasi yang terjadi di dalam laboratorium dan studi klinis terhadap kecanduan obat. Setelah beberapa kali pemberian obat, petunjuk yang diasosiasikan dengan pemberian obat akan menyebabkan respons yang disebut conditional-compensatory (CCRs). CCRs penting, karena ia melemahkan efek dari obat tertentu yang sedang diberikan. Periset telah mendokumentasikan CCRs pada beberapa obat, termasuk obat yang kerap di salah gunakan, seperti opium, ethanol, dan kafein. Dalam riset Pavlov, eaksi air liur yang keluar saat melihat orang member makan adalah model untuk pengembangan toleransi obat adiktif.

Behaviorisme John Watson
Watson mengidentifikasi tiga reaksi emosional bayyi yang bersifat naluriah, yaitu reaksi yang terjadi secara alami. Reaksi tersebut adalah cinta, marah dan takut (Watson, 1928; Watson & Morgan, 1917). Misalnya, respons takur terjadi dilingkungan alamiah setelah adanya suara keras atau kurangnya dukungan pada bayi.
            Watson sepakat dengan Sigmund Freud, bahwa kehidupan emosi dewasa dimulai sejak masa bayi dan emosi itu dapat ditransfer dari satu objek/kejadian ke objek/kejadian lainnya (Watson & Morgan, 1917). Watson menunjukkan teorinya dalam eksperimen dengan Albert, bayi berusia 11 bulan. Reaksi takut Albert dikondisikan ke tikus putih dan reaksi ini ditransfer ke kelinci putih.
Koneksionisme Edward Thorndike
            Thorndike memilih bereksperimen dalam kondisi terkontrol untuk mengembangkan teorinya. Dalam eksperimennya, hewan dikurung dengan makanan diletakkan di luar atau di kotak tertutup. Tugas bagi hewan lapar itu adalah membuka makanan atau sangkar dan mendapatkan makanan. Thorndike menyebut eksperimen ini sebagai pengkondisian instrumental untuk merefleksikan perbedaannya dengan pengkondisian klasik. Teori ini dikenal sebagai koneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli particular dengan perilaku mandiri.
            Dari hasil percobaan yang dilakukan Thorndike pada beberapa hewan, Thorndike mengidentifikasi tiga hukum belajar. Pertama, hukum efek (laws of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang memuaskan setelah respons akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut. Hukum efek penting karena dapat mengidentifikasi mekanisme baru dalam proses belajar. Kedua, hukum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa perulangan atau repetisi dari pengalaman akan meningkatkan peluang respons yang benar. Ketiga, hukum kesiapan (law of readiness) mendeskripsikan kondisi yang mengatru keadaan yang disebut sebagai “memuaskan” atau “menjengkelkan”. Pelaksanaan tindakan dalam merespons impuls yang kuat adalah memuaskan, sedangkan perintangan tindakan atau memaksakannya dalam kondisi lain adalah menjengkelkan.

PSIKOLOG GESTALT
Fokus awal riset Gestalt adalah pengalaman persepsi. Bersama dengan Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler, Wertheimer mengembangkan hukum persepsi dan mengaplikasikan konsep ini ke belajar dan pemikiran. Riset yang dilakukan psikologi Gestalt terhadap persepsi visual menunjukkan bahwa:
a.       Ciri global dideteksi sebagai keseluruhan, bukan sebagai elemen-elemen sederhana
b.      Proses ini konstruktif karena individual sering menstransformasikan input visual yang tidak lengkap ke dalam citra perseptual yang lebih jelas
Asumsi Dasar
Empat asumsi dasar perspektif Gestalt dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Asumsi
Contoh
1.    Yang mestinya dipelajari adalah prilaku molar, bukan prilaku molecular
Kinerja seorang mahasiswa di kelas saat dosen memberi kuliah
2.    Organisme merespons “keseluruhan sensoris yang tersegregasi” atau gestalten ketimbang pada stimuli spesifik atau kejadian-kejadian yang terpisah dan independen
Susunan geometris dari 11 titik dilihat sebagai sebuah salib

                     º
                     º
                     º
           º  º  º  º  º  º  º
                     º
                     º
                     º

3.    Lingkungan geografis, yang hadir sebagaimana adanya, berbeda dengan lingkungan behavioral, yang merupakan cara sesuatu muncul. Lingkungan behavioral adalah realitas subjektif
Koffka mendeskripsikan peristiwa seorang pria mengendarai kuda melewati datran di tengah badai salju menuju sebuah penginapan. Ketika ditanya dari mana ia berasal, lelaki itu menunjuk arah seberang penginapan. Pemilik penginapan terkejut dan bertanya apakah lelaki itu tahu dia sebenarnya berkuda di atas danau yang membeku. Ceritanya lelaki itu jatuh dan mati karena terkejut ketika sadar dirinya sudah menyeberangi danau berlapis es tipis bermil-mil
4.    Organisasi lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.
Sebuah gambar (misal, kubus) yang sama namun dipersepsi secara berbeda berdasar relasi dari garis-garisnya



Hukum Organisasi Perseptual
            Gestalt berpendapat bahwa tugas utama psikologi adalah mengetahui bagaimana individu secara psikologis memahami atau mempersepsi lingkungan geografis. Mereka mendefinisikan persepsi sebagai proses pengorganisasian stimuli yang diamati di mana pengamat memberikan makna kepada serangkaian stimuli. Hukum Gestakt dasar, yakni hukum Pragnanz, dan hukum terkait primer yang mendeskripsikan semua pengaruh ini.
Hukum Pragnanz.
Istilah Pragnanz berarti esensi, dan hukum ini menunjukkan pengorganisasian psikologis terhadap sekelompok stimuli. Dalam setiap rangkaian stimulus, organisasinya dipersepsikan oleh individu sebagai satu stimuli yang: (a) paling komprehensif; (b) paling labil; (c) bebas dari sebab-akibat dan arbitrer.
Hukum terkait
            Hukum pengorganisasian perseptual mendeskripsikan empat karakteristik utama dari bidang visual yang mempengaruhi persepsi. Karakteristik itu adalah kedekatan dari setiap elemen (proximity), ciri yang sama, seperti warna (similarity), tendensi elemen untuk melengkapi pola (open direction), dan kontribusi elemen stimulus terhadap struktur sederhana keseluruhan (simplicity).
Riset Tentang Belajar dan Pemecahan Masalah
          Perkembangan utama dalam belajar dan pemikiran adalah pengalaman wawasan, perbedaan antara belajar arbitrer dan belajar bermakna, serta studi pemecahan masalah.
            Psikologi Gestalt memberi kontribusi beberapa konsep untuk memahami pemecahan masalah.  Mungkin yang paling terkenal adalah konsep pemahaman (wawasan), yang melibatkan reorganisasi persepsi seseorang untuk “melihat” solusi. Analisis kontemporer mengindikasikan bahwa pemahaman kreatif pada masalah baru memerlukan kerja keras dan riset, periode inkubasi, momen wawasan, dan pengkajian lebih lanjut. Dalam kehidupan sehari-hari, wawasan terhadap masalah mungkin diperoeh lewat pengaturan kembali beberapa aspek dari persoalan, elaborasi, dan relaksasi pembatas.
            Kontribusi lain dari psikologi Gestalt adalah pembedaan oleh Wertheimer atas belajar arbitrer (tanpa makna) dan belajar bermakna, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pemecahan masalah. Di dalamnya mencakup pengidentifikasian masalah untuk menyusun solusi yang memiliki nilai fungsional, peran penemuan pemecahan masalah yang bermakna dengan panduan, dan menghindari pembatasan pemecahan masalah. Hal-hal yang membatasi itu antara lain adalah kekakuan fungsional, yakni ketidakmampuan untuk melihat elemen-elemen dari masalah dengan cara baru, dan belenggu masalah, yakni kekakuan dalam memecahkan masalah. Perkembangan lainnya adalah aplikasi konsep Gestalt ke formasi kelompok sosial dan motivasi serta konsep belajar laten.
PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN GESTALT
Kedua teori ini mengilustrasikan perkembangan pengetahuan melalui pengukuran yang akurat dan riset dalam kondisi yang terkontrol.
Aplikasi ke Pendidikan
Psikologi Behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risetnya pada asumsi yang berbeda mengenai sifat dan belajar serta fokus studinya. Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasi stimuli dan respons spesifik sebagai focus riset, sedangkan psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespons stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memecahkan masalah.
Behaviorisme
Pengkondisian klasik juga membahas aspek-aspek dari situasi sehari-hari, misalnya untuk hari pertama anak, di kelas taman kanak-kanak dan sekolah dasar, aktivitas yang dilakukan haruslah kegiatan yang dapat menghindari asosiasi kecemasan dan perasaan negative lainnya terhadap latar sekolah.
Guthrie juga menyarankan guru untuk mengasosiasikan stimuli dan respons secara tepat. Misalnya, guru harus memastikan bahwa instruksi seperti mengantri makan siang tidak menimbulkan perilaku distruptif. Masalahnya adalah bahwa sebuah perintah dapat menjadi petunjuk untuk munculnya perilaku distruptif di masa depan.
Psikologi Gestalt
Isu yang diangkat psikologi Gestalt untuk masalah pendidikan adalah soal makna, pemahaman, dan wawasan yang merupakan karakteristik manusia. Komputer, dapat menjadi pemecah masalah manusia, setelah masalahnya dipahami.
Kesulitan dalam mengaplikasikan perspektif Gestalt di kelas adalah kurangnya prinsip yang terdefinisikan dengan jelas. Periset Gestalt mengemukakan beberapa saran untuk pembelajaran memecahkan masalah, yaitu :
a.       membuat tugas dalam belajar di dalam situasi yang konkrit dan akurat.
b.      asistensi selama pemecahan masalah tidak boleh berupa prosedur pengulangan dan peniruan.

Rabu, 26 September 2012

TUGAS INDIVIDU

1.      Fungsi Umum Teori Belajar
a.       Sebagai Kerangka Riset
Pengalaman saya :
Teori Classical Conditioning merupakan salah satu teori yang menginspirasi saya tentang adanya proses pengkondisian dalam sesi kehidupan. Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik saat mempelajari teori Pavlov pada mata kuliah PUM I, tapi pada saat mencoba menerapkan teori Pavlov pada kucing saya, dan hal tersebut berhasil, saya jadi lebih semangat dalam mempelajari Psikologi, karena apa yang saya pelajari merupakan hal-hal kecil yang sering terjadi disekitar saya, dan saya sering cuek akan hal tersebut.
b.      Memberikan kerangka organisasi untuk item-item informasi
Pengalaman saya :
Kondisi dimana saat belajar disekolah maupun di Universitas, saya terbiasa dengan mengkotak-kotakkan (mengorganisasikan) sifat guru maupun dosen. Saya akan lebih mudah belajar jika saya tahu, bagaimana kebiasaan guru/dosen, bagaimana menghadapi atau proses belajar mengajar dengan Dosen A, maupun Dosen B. Hal ini menjadikan saya mempunyai trik yang tepat menghadapi Dosen/Guru yang berbeda-beda.
c.       Mengidentifikasi sifat dari peristiwa yang kompleks
Pengalaman saya :
Saat saya menghadiri acara wisuda teman dekat saya di Selecta Building, saya bermodalkan nekat dengan tidak memiliki undangan masuk ruang acara wisuda. Pada saat itu, saya tidak punya alasan yang tepat untuk bisa masuk keruangan wisuda. Namun, mengandalkan observasi dengan proses pencarian informasi, mengingat dan pemecahan masalah, saya bisa masuk keruangan wisuda, tanpa undangan.
d.      Mereorganisasi pengalaman sebelumnya
Pengalaman saya :
Seperti halnya teori Bandura, tentang Perfomance attainment. Saya sering memandang masa depan berdasarkan pengalaman di masa lalu. Keyakinan diri saya akan kesuksesan itu bergantung pada bagaimana saya mencapai suatu prestasi di masa lalu. Pada saat saya mendapatkan nilai yang baik untuk satu mata kuliah di semester lalu, maka saya akan berusaha mati-matian untuk tetap mendapatkan nilai yang baik di semester ini. Pengalaman buruk juga terkadang menginspirasi saya, ini terbukti saat nilai saya turun sejeblok-jebloknya pada saat semester 3, itu adalah cambukan untuk diri saya, bahwa saya harus berubah, mengubah strategi belajar dan bisa menjadi lebih baik disemester selanjutnya. Dan karena keyakinan itu, saya mendapatkan sesuai dengan target yang sudah saya susun.
e.       Bertindak sebagai penjelasan kerja dari persitiwa
Pengalaman saya :
Ini berkaitan dengan pengalaman yang telah saya paparkan pada fungsi yang pertama. Ini terjadi antara saya dan kucing saya. Saya sering sekali memanggil kucing saya untuk makan dengan memukul sendok dengan piring makan. Dan si kucing akan berlari secepat mungkin kearah saya. Pada awalnya, kucing tidak terlalu peduli dengan suara dentingan sendok + piring, namun seiring waktu, setiap mau memberi makan, saya mendentingkan suara sendok dan piring, diikuti dengan pemberian makan, maka sang kucing akan reflex mendatangi saya saat ada suara dentingan piring + sendok, walaupun terkadang saya tidak bertujuan memberinya makan. Setelah mempelajari teori Ivan Pavlov, saya jadi mengerti bahwa perilaku itu bisa dibentuk dari proses belajar.
2.      Perspektif Psikologis tentang factor-faktor utama dalam belajar :
a.       Perspektif Behavioris
Teori Behavioris memandang perilaku manusia adalah hasil dari proses belajar (dapat dibentuk). Ada banyak tokoh yang mengeluarkann teori dari sudut pandang behavioristic, namun dasar dari teori mereka sama, yaitu adanya penguatan, reward, dan punishment. Hal ini sama seperti pengalaman saya dengan kucing yang sudah saya paparkan sebelumnya diatas pada point (a) dan (e). Perilaku kucing yang telah terkondisikan memberi bukti bahwa perilaku itu dapat dibentuk oleh lingkungan, dan itu merupakan proses belajar. Dan saya juga belajar dari perilaku kucing tersebut, saya menjadi lebih paham ketika teori behavioristic bukan hanya dibaca, namun sangatlah dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.
b.      Perspektif Kognitif
Teori kognitif merupakan teori belajar yang melibatkan proses penerimaan informasi, mengingat, recall, dan problem solving. Contoh dari perspektif ini dalam pengalaman saya adalah paparan pada point (c). Pada saat saya mencoba masuk menuju lantai 5 (ruangan wisuda) di Selecta Building, saya ragu dan berpikir, bagaimana saya dapat melewati Satpam untuk menuju ruangan wisuda. Kebetulan didepan Lift, ada semacam papan pengumuman yang berisi tulisan “Lantai 5 : Wisuda, Lantai 6 : Restoran BUKA”. Pada saat membaca papan pengumuman tersebut, saya menyimpan dulu informasi tentang Restoran dilantai 6, namun itulah alibi yang sangat berguna untuk bisa masuk kedalam Lift dan menuju ruangan Wisuda Lantai 5.
c.       Perspektif Interaksionis
Menurut perspektif interaksionis, proses belajar dipengaruhi oleh model dan factor lingkungan dan personal terhadap perilaku. Ini sesuai contoh pada point (d). Dimana saya akan cenderung belajar dari pengalaman masa lalu, dan mengamati pengalaman sukses orang lain. Dan ini akan membuat keyakinan diri saya untuk lebih sukses menjadi lebih besar (semakin termotivasi).
d.      Teori Perkembangan Interaksionis
Teori perkembangan interaksionis adalah teori tentang symbol-simbol budaya yang mempengaruhi proses belajar individu. Dan ini yang terjadi pada saya saat pertama kali menginjakkan kaki di Medan untuk kuliah. Pepatahnya “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” merupakan hal tepat untuk saya. Karena proses belajar dan beradaptasi dari satu budaya ke budaya lain bukanlah hal yang mudah. Dan proses yang untuk bisa hidup mandiri, jauh dari orang tua juga merupakan hal yang sangat sulit bagi saya. Namun, dari hal tersebut saya belajar dengan mencoba berinteraksi dengan lingkungan yang saya tempati saat ini. Menncoba untuk memahami budaya setempat agar dapat survive dilingkungan yang baru.

Sabtu, 22 September 2012

MINDMAP BAB I TINJAUAN BELAJAR


Rabu, 12 September 2012

HASIL DISKUSI ANALISIS KELOMPOK


Anggota          :

Konsep penguatan dari Skinner efektif untuk memunculkan perilaku baru yang diharapkan. Penguatan ini bisa bersifat positif dan bisa bersifat negative. Penguatan yang bersifat positif bila diberikan akan memunculkan perilaku baru atau mempertahan perilaku yang lama yang memang diinginkan. Sebaliknya penguatan negative akan mengurangi perilaku yang tidak diharapkan. Tetapi pada kasus Ririn (Sri Rizki Amanda) dan Qiqi (Rizqi Chairiyah) penguatan negative yang diberikan malah menguatkan perilaku yang tidak diharapkan (Ex: tidak termotivasi untuk belajar).
Skinner juga memberikan konsep jadwal penguatan, yaitu : fixed ratio, fixed interval, variable ratio, variable interval. Penjadwalan penguatan memegang peranan penting dalam memunculklan perilaku. Terlihat dari kasus Anggi (Fauziah Nami), yang diberikan penguatan secara konsisten, yitu setiap 6 bulan sekali. Hal tersebut memberikan efek positif pada anak yang semakin termotivasi untuk meningkatkan nilainya.

NB : Untuk membaca kasus Ririn, Qiqi, dan kasus Anggi, reader dapat membukan Link pada nama anggota kelompok diatas. Terimakasih... (♥o♥)

ANALISA PENGALAMAN INDIVIDU


Pengalaman Ririn

            Pada saat sekolah, saya termasuk siswa yang cukup peduli dengan apapun tugas yang diberikan oleh guru (bisa disebut rajin laa..). Namun, hal itu mulai berubah saat saya naik kelas tiga SMP. Di sekolah saya ada seorang guru yang sering sekali bertanya dan memberikan PR pada siswanya. Namun, saya sangatlah tidak menyukai sistem pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersebut. Karena Beliau hanya akan menyuruh atau meminta menyelesaikan tugas di papan tulis hanya pada satu orang, sebut saja M. Apapun tugas dan penyelesaian soal Fisika, guru tersebut akan meminta M untuk membantunya menyelesaikan di papan tulis. Karena ini terjadi secara terus-menerus, hal ini membuat saya jadi malas mengerjakan tugas maupun PR dari Guru tersebut. Dikarenakan saya merasa, apa yang saya buat, capek-capek menyelesaikan soal Fisika (bagi saya cukup sulit), malah hanya M yang disuruh mengerjakan di papan tulis dan diberi penghargaan (seperti pujian).

Pembahasan menurut Teori Skinner :
            Dalam teori Operant Conditioning, Skinner mengungkapkan konsep teorinya dengn penguatan, baik penguatan positif dan juga penguatan negative. Dari kasus saya diatas, bila dikaitkan dengan teori Skinner, saya jelas mendapatkan penguatan negative untuk memunculkan suatu perilaku. Dimana saya yang awalnya semangat mengerjakan PR atau tugas, menjadi malas dan tidak peduli dikarenakan guru tersebut tidak pernah memberikan penguatan pada anak agar lebih rajin, guru malah memberikan penguatan negative, yang mengakibatkan saya tidak lagi peduli pada tugas maupun PR yang guru berikan.
            Selain itu, dalam teorinya, Skinner menyebutkan tentang jadwal penguatan. dan dalam kasus saya, saya mengalami jadwal penguatan interval menetap. dimana penguatan secara negative diberikan pda setiap mata pelajaran Fisika berlangsung (Konsisten).

Template by:

Free Blog Templates