Selasa, 08 Maret 2011

HoRror Tour....

Jalan-jalan yuuuk... berikut ada beberapa tempat yang cukup memacu adrenalin yang kental dengan mitos horror... come on...!!!!!!!!!!!!!
Leap Castle, Irish
 
Lembab dan aroma tanah langsung menyergap indera penciuman kita, begitu menginjakkan kaki ke kastil yang ada di County Offally, sekitar 4 km sebelah utara dari Roscrea, Irlandia ini. Bangunan yang aslinya disebut Leap of the O’Bannons atau Lein Ui Bhanain ini masih terlihat kokoh, meski dibeberapa tempat termakan usia. Imagine bila malam-malam kita sendiri jalan-jalan menyusuri tempat ini. I’ve got goosebumps. Konon, salah satu bagian dari bangunan berbentuk kastil ini memperoleh julukan bloody chapel. Kejadian lengkapnya sichh, saat pendeta O’Carroll memimpin sebuah acara di chapel keluarga, tiba-tiba datang musuh saudaranya yang langsung menghunuskan pedang kke arahnya. Pendeta itu tewas seketika di altar, tepat di depan keluarganya. Kini kita bisa datang kelokasi ini, sekedar buat foto atau menyusuri lorong-lorongnya yang berdinding batu. Pohon-pohon dan rumput yang dibiarkan tumbuh liar disekitarnya juga membuat suasana magis kian terasa.
Auschwitz Birkenau, Polandia
 
Jalan-jalan kenegara ini, selain bisa berburu souvenir, kamu juga perlu uji nyali nih dengan ikutan tur ke tempat yang punya nilai sejarah. Auschwitz Birkenau. Brrr!! Dingin. Baru ngebuka pintunya saja, suara engselnya yang berkarat, sudah seperti mengiris hati. Opss! Lolongan anjing terdengar sayup-sayup. Jangan mundur, meski ada burung gagak bertengger di pohon menjulang, tepat tak jauh dari pintu masuk gedung tua ini. Matanya seakan menatap tajam, memperhatikan segala gerak-gerik setip orang yang datang penuh curiga.
And you know what? Rasanya ada banyak mata yang mengawasi. Bukan sepasang atau dua pasang, tapi ribuan! Huuuh. Kita harus bisa menepis rasa ketakutan yang berlebihan. Meski dalam hati, kita bisa rasakan hawa dingin yang tidak biasanya. Seakan siap membekukan siapapun yang masuk ke gedung ini.
Yuk kita susuri ruang demi ruang. Sunyi. Sesekali terdengar gemerisik dinding yang dilapis seng berkarat. Kengerian yang sulit untuk digambarkan denggan kata-kata, langsung menyergap, saat kita memasuki ruang demi ruang. Gedung ini memang gedung yang dijadikan tempat tawanan Jerman waktu perang dunia sekitar 1940-an. Aroma gas tercium tiba-tiba. Rasanya begitu mencekik, hingga kita suka berhalusinasi. Rasanya paru-paru ini terhimpit, sulit bernafas. Saat-saat seperti ini, jangan pernah lupakan untuk berdoa menurut kepercayaan masing-masing guys...
Ssssttt... apa tuh? Ada beberapa wanita separuh baya melenggang begitu saa, melewati pintu utama yang ada penyekatnya dari kayu gelondongan berukuran besar. Baju mereka seadanya, lusuh, tak jelas lagi warnanya. Mereka sesekali memandang kita penuh curiga, lantas menghilang begitu saja menembus tembok... Uuppss...they’re gone!
Derit pintu yang dibuka dan suara kaki setangah diseret, terdengar lagi. Makin dekat dan dekat. Kaki yang diseret itu kelihatannya membawa beban yang begitu berat. Ouch! Konon, tempat yang juga dijadikan sebagai barak atau kamp pengasingan, sekaligus kuburan massal tawanan perang ini masih menyisakan roh-roh korban yang meninggal di tempat itu. Hhiiiyyy...
Mereka korban dari kekejaman perang, tewas mengenaskan karena gas beracun. Sebelumnya, tak sedikit mengalami penyiksaan. Teriak kesakitan, tangis ketakutan, selalu terngiang-ngiang memilukan dan menakutkan. Buat yang tidak kuat iman dan suka melamun, jangan coba-coba ikut touring!
Auschwitz Birkenau Concentratrion Camp beroperasi saat Perand Dunia yang melibatkan Uni Soviet dan Jerman, sekitar Mei 1940 hingga Januari 1945. Sedikitnya 2,5 juta orang tewas mengenaskan. Saat itu ada pembersihan ras waktu Hitler memimpin. Laki-laki, dikumpulkan dalam satu barak. Perempuan dan anak-anak dikumpulkan dalam barak yang berbeda. Tapi akhirnya, mereka disekap dalam ruangan tertutup rapatyang dialiri gas, seperti adegan dalam film-film Hitler. Ternyata adegan di film itu kejadian nyata.
Tahun 1942, 175 ribu orang lebih berdarah Yahudi, juga tewas dengan gas. Lantas jenazah mereka dibakar atau dikremasi, tanpa dikebumikan dengan layak. Hitler mulai menggunakan tempay ini sekitar tahun 1943. Lanati dasar buat hukuman gas, lantai dua buat kremasi jenazah. Sekali eksekusi, ada sekita 4.000 orang. Bisa dibayangkan, betapa mengerikannya tempat ini.
Banyak keluarga korban dan turis yang meneteskan air mata setiap kali mengunjungi tempat ini. Setiap orang ynang memotret tempat ini, foto-fotonya sering menangkap bayangan asing, tidak jarang pengunjung juga merasa ada yang menepuk bahunya, tapi sebenarnya tidak ada siapa-siapa disamping mereka.
Pemerintah setempat memang membuat tempat ini sebagai salah satu tempat tujuan wisata saat ini. Siapa pun yang punya nyali boleh ikut touring, asal resiko dicolek makhluk halus atau mendengar suara-suara mengiriskan hati, ditanggung sendiri!
Mau mencoba????

Be Myself....


Untuk bisa menjadi diri kita sendiri, kita harus terlebih dahulu mengenal siapa sih diri kita. Loch?? Memang selama ini kita gag kenal siapa kita?? Nama : Sri Rizki Amanda, mahasiswi Psikologi USU. Itu kenalkan.. kok dibilang gag kenal yha???? Pasti pembaca bingung... Gini deh, baca ajjah lebih lanjut apa yha maksudnya??
                Mengenal diri bukan hanya kita tahu nama kita siapa, trus kita sekolah/kuliah/bahkan kerja dimana. Tapi mengenal diri yang dimaksud adalah bahwa kita harus tahu bagaimana penilaian positif maupun negatif diri kita dari orang lain. Berkaitan dengan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan kali ini, saya ingin membahas tentang pengenalan diri dengan sampel diri saya sendiri, dan mengaitkannya dengan salah satu teori kognisi. Yuuuuckk....
                Saya adalah seorang anak pertama yang manja, penurut, dan tidak banyak menuntut, juga seorang yang mudah putus asa. Saya juga seorang yang mempunyai impian yang begitu tinggi sejak saya masih duduk dibangku SMP. Saya memimpikan banyak hal yang secara logika dengan kondisi diri saya bisa dikatakan mustahil untuk diwujudkan. Namun saya tidak peduli dengan kata orang yang mengomentari bahwa keinginan saya yang terlalu tinggi. Karena saya yakin sesuatu yang besar itu dimulai dari mimpi yang besar pula. Walau sering saya putus asa karena ejekan orang disekitar saya. Namun saya mencoba tetap untuk berusaha. Dengan sikap saya yang seperti ini, saya mencoba mengaitkannya dengan teori kognitif sosial Bandura (social cognitive theory). Dimana teori oleh Albert Bandura mengatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi saya untuk meraih keberhasilan dan mencapai semua impian yang sejak dulu saya tanamkan dalam diri saya; dimana faktor sosial mungkin mencakup pengamatan diri saya terhadap perilaku orang tua saya. Menurut Bandura, tiga faktor utama (perilaku, kognitif, dan lingkungan) saling berinteraksi dan mempengaruhi pembelajaran.
Ada beberapa model Bandura yang menurut saya bisa dihubungkan dengan perilaku akademik diri saya.
  • Kognisi memengaruhi perilaku. Saya mempunyai impian dimana karena impian tersebut, memotivasi saya untuk menyusun strategi kognisi, sehingga saya dituntut untuk berpikir secara lebih mendalam bagaimana saya dapat menyelesaikan masalah saya, yaitu mewujudkan semua impian yang saya punya. Impian saya disini adalah menjadi kebanggaan orang tua dan dapat masuk ke perguruan tinggi yang bagus. Strategi kognisi saya akan meningkatkan perilaku akademik dalam diri saya.
  • Perilaku memngaruhi kognisi. Proses belajar yang saya lakukan (perilaku) membuat saya dapat masuk ke perguruan tinggi seperti yang saya harapkan, hingga menghasilkan suatu nilai positif dalam diri saya (Kognisi).
  • Lingkungan memengaruhi perilaku. Lingkungan keluarga yang mendukung saya dalam bidang pendidikan membuat saya semakin giat untuk belajar secara efektif dan teratur, dan berharap utnuk dapat mewujudkan semua impian “gila” saya. Sehingga dalam pendidikan pun, nilai-nilai akademis saya meningkat.
  • Perilaku memengaruhi lingkungan. Perilaku saya dengan giat belajar secara teratur, dapat meningkatkan prestasi akademis saya. Sebagai anak pertama, ini merupakan contoh yang baik bagi kedua adik saya. Karena hal ini memacu kedua adik saya untuk tidak malas dalam belajar.
  • Kognisi memengaruhi lingkungan. Dengan prestasi akademis saya, membuat orang tua saya bangga terhadap anaknya, juga orang disekeliling saya tidak meremehkan saya lagi, bahkan mengikuti apa yang saya lakukan. (Terkesan memuji diri, tapi sebenarnya bukan itu tujuan saya, Maaf ya...)
  • Lingkungan memengaruhi kognisi. Dengan lingkungan selain keluarga saya mulai mendukung apa yang saya harapkan, saya menjadi lebih tekun utnuk mewujudkan lebih banyak lagi impian saya. Dengan ini akan meningkatkan keterampilan berpikir saya.
Apa yang saya lakukan terrsebut disebut oleh Bandura self-efficacy, yakni keyakinan bahwa sesorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif. Self-efficacy mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku.

Sumber : Santrock, John W. 2010. PSIKOLOGI PENDIDIKAN, Edisi Kedua, Cetakan Ke-3. Jakarta:Kencana
By : sRi Rizki AmANda

Senin, 07 Maret 2011

Motivasi? Maksudnya??


                Masih bertanya-tanya apa sih motivasi itu? Dan kaitannya dengan dunia pendidikan apa ya?? Hmmm... pada pertemuan kali ini, saya akan membahas tentang apa motivasi itu, dan seberapa pentingnya motivasi dalam pendidikan...
Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku (Santrock, 2010). Motivasi merupakan aspek penting dari pengajaran dan pembelajaran. Seperti yang telah saya kemukakan diartikel sebelumnya, bahwa motivasi adalah komponen utama dari prinsip psikologi learned-centered. Siswa-siswa yang mempunyai motivasi tinggi akan berusaha untuk menyerap pelajaran dari sekolah sebaik mungkin, dan akan sangat senang untuk kesekolah. Namun, siswa yang tidak punya motivasi akan merasa malas belajar, dan bahkan tidak tertarik untuk kesekolah. Peran motivasi bagi kehidupan seseorang mempunyai andil besar. Bagaimana tidak? Seorang yang tidak memiliki motivasi sama dengan tidak memiliki tujuan hidup. Sehingga tidak ada semangat, arah yang akan dilakukan dalam mengatasi rintangan dalam kehidupannya.Hal ini cukup membahayakan bila terjadi dalam dunia pendidikan. Jika terlalu banyak siswa yang tidak memiliki motivasi, apa yang akan terjadi dengan bangsa Indonesia?
Ada sebuah contoh dari motivasi. Lance Armstrong adalah pembalap sepeda yang hebat tetapi kemudian dia didiagnosis memngidap kanker pada 1996. Peluang kesembuhannya diperkirakan kurang dari 50 % saat pepmbalap sepeda itu mengikuti kemoterapi dan emosinya memburuk. Akan tetapi, Lance pulih dari penyakit itu dan bertekad memnangkan lomba Tour de France sejauh kurang lebih 2.000 mil, sebuah lomba balap sepeda paling bergengsi didunia. Hari demi hari Lance berlatih keras, terus bertekad memnangkan lomba itu. Lance kemudian berhasil memenangkan lomba balap Tour de Franc bukan hanya sekali, tetapi empat kali, pada 1999; 2000; dan 2002. Contoh tersebut berkaitan dengan motivasi seorang siswa dikleas. Jika seorang siswa mau mengatasi masalah dan menyelesaikan tugasnya, walau dengan segala keterbatasan yang ia miliki, berarti murid tersebut memiliki motivasi yang besar.

Sumber : Santrock, John W. 2010. PSIKOLOGI PENDIDIKAN, Edisi Kedua, Cetakan Ke-3. Jakarta:Kencana
By : sRi Rizki AmANda

Jumat, 04 Maret 2011

Teacher-Centered vs Learner-Centered... Mana yang Lebih Efektif Yaa???


Teacher-Centered adalah pembelajaran dikelas yang perencanaan dan instruksi berpusat pada guru. Dalam metode ini seorang pengajar (baik guru maupun dosen) sangatlah berperan dalam memberikan bahan ajar untuk murid-muridnya. Ada tiga alat umum disekolah untuk melaksanakan teacher-centered, yaitu menciptakan sasaran behavioral (perilaku), menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi intruksional. Pada intinya, metode pembelajaran teacher-centered ini menuntut seorang guru yang profesional untuk memberikan pengajaran secara ekstra. Secara ekstra bukan berarti seorang guru itu harus mengajar 24 jam. Namun diartikan bahwa gurulah yang lebih berperan untuk kelancaran proses belajar mengajar dalam kelas. Instruksi langsung (direct instruction) adalah pendekatan teacher-centered yang terstruktur yang dicirikan oleh arahan dan kontrol guru, ekspektasi guru yang tinggi atas kemajuan murid, maksimalisasi waktu yang dihabiskan murid untuk tugas-tugas akademik, dan usaha oleh guru untuk meminimalkan pengaruh negatif terhadap murid (Joyce & Weil, 1996). Banyak strategi teacher-centered merefleksikan instruksi langsung. Dimana guru mengorientasikan murid pada materi baru, mengajar, menjelaskan dan mendemonstrasikan, menanyakan dan diskusi, penguasaan pembelajaran, tugas dikelas, dan pekerjaan rumah. Pendekatan teacher-centered mendapat banyak kritikan. Instruksi dengan model ini sering menghasilkan pembelajaran yang pasif dan tidak memberi kesempatan yang cukup kepada murid untuk mengkonstruksi pengetahuan dan pemahaman. Metode ini juga dipandang mengahsilkan kelas yang terlalu kaku dan terstruktur ketat, kurang memerhartikan perkembangan sosioemosional, lebih menjurus ke pemberian motivasi dari luar ketimbang menumbuhkan motivasi dari dalam, terlalu banyak memberikan tugas tertulis, hanya sedikit memberi kesempatan untuk pembellajran dunia nyata, dan terlalu sedikit pembelajaran kolaborasi dalam kelompok.
Learner-Centered adalah instruksi dan perencanaan kelas yang menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif. Dalam sebuah studi, persepsi murid terhadap lingkungan pembelajaran yang positif dan hubungan interpersonal dengan guru merupakan faktor paling penting yang memperkuat motivasi dan prestasi murid (McCombs, 2001 ; McCombs & Quiat, 2001). Prinsip learner-centered mengandung implikasi penting bagi cara guru merancang dan mengajar, karena prinsip-prinsip tersebut didasarkan pada riset tentang cara belajar paling efektif bagi murid. Dimana dalam prinsip pembelajaran learner-centered muridlah yang dituntut untuk berperan aktif dalam pembelajran dikelas. Guru hanya sebagai fasilitator yang bertugas mengarahkan murid, selebihnya murid yang melakukan pembelajaran sendiri, memahami dan menemukan pengetahuan secara mandiri. Pendekatan learner-centered untuk perencanaan dan instruksi pelajaran memberikan banyak hal positif. Prinsip tersebut mendorong guru untuk membantu murid secara aktif mengkontruksi ppemahaman mereka, menetukan tujuan dan rencana, berpikir mendalam dan kreatif, memantau pembelajaran mereka, memecahkan problem dunia nyat, mengembangkan rasa percaya diri yang positif dan mengontrol emosi, memotivasi diri sendiri, belajar sesuai dengan level perkembangan, bekerja sama secara efektif dengan orang lain (termasuk orang yang berbeda latar belakang), mengevaluasi preferensi mereka, dan memenuhi standar.
Sumber : Santrock, John W. 2010. PSIKOLOGI PENDIDIKAN, Edisi Kedua, Cetakan Ke-3. Jakarta:Kencana
By : sRi Rizki AmANda

Template by:

Free Blog Templates